Yusri A. Boko: Mabinkom PMII Komisariat STKIP Kie Raha, Rabu (12/08/2020)
………”Sesibuk apapun Gus Dur tetap meluangkan waktunya untuk menulis artikel. Sebuah kegiatan yang tidak mudah dilakukan banyak orang. Sebagai intelektual dan sekaligus pemimpin serta politisi, Gus Dur sangat menyadari pengaruh dari ide-ide dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan (M.Syafi’i Anwar, 2005)”.
Prolog. Alfatihah untuk Kiai Abdurrahman Wahid, atau disapa Gus Dur. Tulisan ini simpel dan tidak neko-neko. Jika banyak orang menulis tentang Gus Dur dengan cara riset dan refrensi yang banyak, maka tulisan ini tidak. Tulisan ini hanya mempertegas beberapa literatur yang penulis baca (buku dan artikel online), kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan ringan, artinya “Gus Dur dalam Teks” merupakan upaya penulis membaca Gus Dur melalui buku. Gus Dur adalah tokoh idola anak mudah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang “egaliter, moderat dan humanis”. Tidak bisa dinafikan kalau pengagum Gus Dur ada dimana-mana, hal ini karena relasi pemahaman Gus Dur tentang agama, tradisi, demokrasi dan kemanusiaan yang selalu sepadan dengan kehidupan.
Gus Dur adalah anak kandung Indonesia. Gus Dur tak kemana-mana karena sifat dan sikapnya merupakan semua khodrat yang ada pada diri setiap manusia. Walaupun kita memahaminya berbeda dan menentangnya karena berbeda pula. Gus Dur memberikan kita kesan bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang harus hidup berdampingan dan saling menghargai antarsatu dengan lainnya. Bahwa agama harus mampu ditafsirkan sebagai alat pembebasan (liberatif). Gus Dur adalah manusia biasa yang tindakannya luar biasa dan menginspirasi banyak orang diberbagai kalangan; baik lintas agama, pemuda dan ormas moderat. Ia tak butuh untuk dikeramatkan. Mengidola berbeda dengan mengkeramatkan, pengalaman kita adalah tidak sedikit orang mengidolakan satu tokoh dan mungkin mengkultuskannya sebagai manusia suci, misalnya Soekarno dll. Tanpa ada indikator yang jelas, ini kategori gagap membaca dan berfikir.
Padahal tokoh seperti Bung Karno dibesarkan sesuai dengan gerak zamannya. Itu bukan berarti mengkultuskan sebagai manusia suci, sama seperti Gus Dur. Ada semacam dekadensi berfikir yang ditampilkan dengan narasi yang agak membosankan. Dari tulisan “Gus Dur dalam Teks” mari kita menghayati perjuangan almarhum dan membumikannya dengan tidak mengklaim segala sesuatu yang tak bisa dijangkau.
Pengakuan tentang Gus Dur
Bagi saya Gus Dur dalam berpikir selalu totalitas, apa yang dianggap sebagai prinsip yang benar maka itu yang disampaikan. Hal inilah yang membuat Gus Dur harus berhadapan dengan musuh-musuhnya. Walaupun ia sendiri mengatakan tidak memiliki musuh.
Gus Dur memiliki kepribadian yang unik, cara berpikir yang melintas batas dan futuristik, memiliki keberainian politik yang revolusioner, kesahajaan dan kesederhanaan yang ada menjadikan beliau tidak saja fenomenal dan populis akan tetapi di mata umat Islam, khususnya di Malang, Gus Dur adalah sosok yang banyak memberikan inspirasi bagi kehidupan demokrasi dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Betapa ide, tulisan dan tindakan beliau mencerminkan tatanan nilai humanistik dan universal, Muhtadin (Syafi’i, 2010: 1-2).
Gus Dur mengajarkan bagaimana kita menghargai pemeluk agama lain sesama hamba Allah SWT sesuai dengan amanat UUD 1945, sebagaimana terkandung pada pasal 29. Walaupun pada akhirnya dianggap sebagai agen zionis oleh aliran Islam kanan dan dicap Gus Dur sebagai orang yang telah menyimpan dari syareat Islam. Masih ingat dibenak kita, Gus Dur melakukan pembelaan atas kelompok Aliansi Kerukunan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Gus Dur secara lantang mengatakan “kalau kalian pemerintah tidak berani membubarkan FPI, maka saya sendiri yang melakukannya”. Gus Dur dikenal sebagai sosok yang mencintai sesama hamba Allah, memiliki tindakan egalitarian. Dalam konteks pembelaan terhadap AKKBB menggambarkan bagaimana Gus Dur siap memasang badan dalam memperjuangkan kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Gus Dur dalam kesetaraannya membuka kesadaran kepada kita bahwa pentingnya perdamaian bagi seorang hamba yang disebut manusia. Sikap Gus Dur dalam mendukung pemerintahan Megawati sebagai Presiden merupakan bentuk untuk mendorong demokrasi yang tidak kaku. Demokrasi yang tidak mengsubordinasi peran kaum perempuan di kanca politik Indonesia. Padahal Gus Dur bisa menggunakan kapasitasnya untuk menyerang Megawati dengan ijtihad bahwa Islam tidak menghendaki pemimpin perempuan, namun itu tidak dilakukan oleh beliau (Gus Dur menghargai perempuan).
Gus Dur berupaya menghapuskan perundang-undangan tentang penistaan agama (Penpres No.01/PNPS tahun 1965) serta TAP MPR tentang Komunisme (TAP MPRS XXV/1966), yang menurut prespektif Gus Dur dianggap melanggar hak umat dalam melakukan kebebasan beragama. Gus Dur juga dalam satu rekaman wawancara menyampaikan permintaan maaf kepada kelompok eks-Partai Komunisme Indonesia (PKI) atas peristiwa Madium. Patokan Gus Dur ialah UUD 1945, konstitusi menjamin semua hak warga negara, apalagi soal kemanusiaan.
Beliau juga merupakan negarawan sejati. Ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan tabloid yang isinya mendiskreditkan Nabi Muhammad SAW, dan hampir dibunuh oleh sejumlah perwakilan Islam dan agar tabloid itu dibrendel, justru Gus Dur lah yang tampil didepan menolak pembrendelan tersebut. Kenapa Gus Dur melakukan hal itu? Karena Gus Dur sangat memberikan apresiasi terhadap sesorang dan memberi ruang bagi kebebasan berpendapat. Gus Dur menghendaki, apabila orang menyatakan pendapat yang berbeda, maka kita punya hak yang sama untuk menyatakan pendapat yang berbeda pula.
Bagi penulis Gus Dur merupakan sosok yang konsisten dengan segala yang diyakininya dan tidak sedikitipun merasa takut dengan siapa pun kecuali dengan Tuhan (Allah SWT). Beliau orang biasa yang hebat karena komunikasi dan perjuangan kemanusiaan, terbukti dengan wafatnya Gus Dur beratus ribu masyarakat yang datang. Anhar Gonggong pernah mengatakan: “kalo pak Harto itu banyak menyakiti rakyat, kalo Gus Dur saya harus bicara realistis. Gus Dur banyak menyenangkan rakyat, terutama kaum minoritas. Tidak hanya itu, keberanian beliau mencopot Jendral (Purn) Wiranto serta ingin membekukan Golkar pada saat masih berkuasa, merupakan prestasi patut ditiru”.
Kita bisa membayangi pada waktu itu, di masa transisi keduanya cukup kuat dalam memimpin Orde Baru (Golkar dan Militer). Gus Dur memiliki keberanian yang luar biasa hebat, beliau melawan arus politik tempo itu. Gus Dur merupakan sosok yang memberikan jaminan keragaman sebagai berkat yang diterima dengan penuh ungkapan syukur. Kepiawiannya yang mumpuni dalam melihat keragaman telah memberikan angin segar bagi pertumbuhan dan perkembangan keberbagai agama di Indonesia, serta bagaimana agama memberikan kenyamanan pada umat. “Tuhan Tidak Perlu Dibela” demikian ungkapan khas Gus Dur dengan mana mengindikasikan pemikirannya yang menempatkan manusia sebagai basis dalam membangun agama yang benar-benar manusiawi.
Perbedaan penafsiran tentang kehadiran Tuhan dalam pengalaman hidup manusia tidak perlu diperdebatkan, akan tetapi bagaimana menggumuli manusia yang seperti apa yang harus dibela oleh agama, adalah hakikat dasar utama dari orang yang beragama. Dimana kemanusiaan kita, ketika melihat ketidakadilan sosial, ekonomi dan kultural? Pertanyaan ini harus menjadi tujuan kita beragama, maka harus melihat orang lain. Itu merupakan esensi dari keberagamaan kita dan disitulah Indonesia menurut Gus Dur (Pdt. Anton Piga, 26/6/2020).
Gus Dur juga sosok pejuang lingkungan. Pengakuan ini datang dari Aak Abdullah Al-Kudus, pendiri “Laskar Hijau”. Aktif lingkungan ini menuturkan: di tahun 2008 ketika hendak melakukan Maulid Nabi bersama masyarakat dengan aksi menanam dan merawat pohon di sekitar danau yang kemudian diberi nama “Maulid Hijau” dianggap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lumajang. Atas saran temannya. Aak kemudian menemui Gus Dur di Kantor PBNU. Begini saja, kata Gus Dur: “begini saja besok aku ada acara kongkow di Radio KBR 68 H, di Utan Kayu. Kamu datang cerita disana”. Berkat pernyataan Gus Dur di radio, rencana para Kiai ke Jakarta untuk bertemu dengan MUI Pusat batal, padahal busnya sudah disewa.
Leonar Simanjutak, Kepala Greenpeace Indonesia, juga punya kenangan mengesankan dengan Gus Dur. Ia terlibat dalam penolakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria, Jepara, Jawa Tengah. Desember 1994 ia mewakili Masyarakat Anti Nuklir Indonesia (MANI) menolak PLTN. Sebelum aksi dia bicara dulu dengan Gus Dur. Ia mengakui kalah itu, Iwan Fals, termasuk Erasmus Huis-Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta. Ia menyangka kalau lembaga ini memiliki kekebalan diplomatik, nyatanya pada saat diskusi berlangsung, polisi datang membubarkan. Ia bersyukur mempunyai Gus Dur dalam koalisi melawan Orde Baru.
Eko Cahyono, Peneliti Sajogyo Institut, mengungkapkan enam point titik sambung Gus Dur dengan isu lingkungan. Pertama, kemanusiaan, keadilan dan kearifan tradisi. Ia mengutip Gus Dur “memuliakan manusia berarti memuliakan pencipta-Nya dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan pencipa-Nya”. Kedua, epistemologi hukum Islam: “maqasidus syariah”. Sebagai tokoh Islam, Gus Dur mengenal tentang “magasidus syariah”: memelihara agama (hifdz al-din), memelihara jiwa (hifdz al-nafs), memelihara akal (hifdz al-aql), memelihara harta (hifdz al-maal), dan memelihara keturunan/kehormatan (hifdz al-nasl). Gus Dur juga tak asing dengan hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan). Ketiga, dasar sikap ahlu al-sunnah wa al-Jamaah: tawazun (seimbang) dan amar ma’aruf nahi mungkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), tawassut (moderat), i’tidal (tegak lurus), tasamuh (toleransi). Kata eko, sikap seimbang sangat dekat dengan lingkungan, keseimbangan lingkungan. Amar ma’ruf nahi mungkar, katanya, bisa berarti seruan keadilan ekologis dan mencegah kemungkaran seperti pembabatan hutan.
Keempat, kaidah Islam “darul mafasid muqaddamun ‘ala jalbi mashalih (mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengupayakan kemaslahatan). Kelima, prinsip relasi alam bukan sekedar benda mati, tetapi manifestasi Allah. “sebenarnya relasi alam manusia dengan Tuhan, itu satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan”. Keenam, tujuan akhir moral-etik muslim: Islam Rahmatal lil ‘alamin. Tujuan akhir moral etik orang muslim adalah Rahmatal lil ‘alamin, rahmat buat semesta alam, bukan hanya untuk manusia (dikutip https://mongabay.co.id).
Gus Dur: Islam untuk Perdamaian
Gus Dur memang tidak bisa disamakan dengan kelompok pemikir Islam lainnya. Bagi penulis, Gus Dur memiliki keunikan sendiri. Tutur-katanya berjalan pada nilai kemanusiaan yang begitu tinggi. Berpengang pada prinsip-prinsip yang diyakini kebenarannya tetap dipegang sebagai manusia.
Gus Dur telah meletakan dasar bagi berakhirnya peran dwi fungsi ABRI, pengakuan atas hak-hak Tionghoa Indonesia, warga Papua, Kristen dan minoritas sebagai sesama warga negara Indonesia, melindungi kebebasan pers, meningkatkan harapan akan demokrasi dan menghancurkan kultus presiden super kuat (strong-man presidency). (Barton, 2019: xii).
Disinilah Gus Dur dihargai dan dihormati oleh kelompok minoritas bahkan dijuluki sebagai bapak Tionghoa. Semua yang Gus Dur lakukan ialah menjaga perdamaian. Pemikiran Gus Dur yang ala pasantren bukannya menjadikan Gus Dur hanya bisa mengaji dan menghapal kitab kuning, melainkan merubah manset berpikir agama yang agak tidak bersingungan dengan masalah sosial. Orang banyak melihat agama sebagai aspirasi, Gus Dur sendiri melihat agama sebagai ispiratif. Sudah jelas kalau agama itu aspiratif, maka dikit-dikit demo dan lain sebagainya. Namun jika agama itu inspiratif, maka agama itu tidak membuat luka orang lain, sesama manusia beda agama saling memotivasi untuk menjaga daulah para ulama dan leluhur.
Jadi Gus Dur sebenar telah merekomendasikan kepada kita tentang nilai-nilai keislaman. Seperti; kemerdekaan (al-hurriyah), persamaan (al-musawa), Toleransi (tasamuh), dan damai (al-shulh). Sebagaimana yang telah tergambar dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). (Bally Shada dkk, 2009: 50).
Islam harus berbicara tentang kemerdekaan, manusia tidak bisa memperbudak manusia lain. Manusia itu sama sebagai manusia, di mata Tuhan tetap manusia ialah hamba bukan pencipta. Manusia harus menghargai manusia lain dengan tidak mengkafirkan, apalagi memaksakan keyakinan akan kebenaran agama kepada agama dan keyakinan orang lain. Hal ini dilakukan agar terciptanya perdamaian (al-shulh) di muka Bumi. Ini menjadi tanggungjawab manusia sebagai khalifah di muka Bumi.
Gus Dur sangat mencintai perdamaian ialah bagaimana ketidaksetujuan Gus Dur terhadap formalisasi Islam, misalnya terhadap tafsiran Al-Qur’an yang berbunyi “udhkuluu fi al silmi kaffah” yang sering kali ditafsirkan secara literal oleh para pendukung Islam formalis. Jika kelompok Islam formalis mengartikan kata “al silmi” dengan kata “Islami” Gus Dur justru menafsirkan kata tersebut dengan dengan “perdamaian”.
Bagi Gus Dur, konsekuensi dari kedua penafsiran itu punya implikasi luas. Mereka yang terbiasa dengan formalisasi, akan terikat kepada upaya-upaya untuk mewujudkan “sistem Islami” secara fundamental dengan mengabaikan pluralitas masyarakat. Akibatnya, pemahaman seperti ini akan menjadikan warga negara non-Muslim sebagai warga negara kelas dua. Gus Dur juga menolak ideologi Islam. Ideologi Islam tidak sesuai dengan perkembangan Islam di Indonesia yang dikenal dengan negerinya Islam moderat. Disisi lain, Gus Dur melihat bahwa ideologisasi Islam mudah mendorong umat Islam kepada upaya-upaya politis yang mengarah kepada penafsiran tekstual dan radikal terhadap teks-teks keagamaan (Syafi’i Anwar, 2005: xv).
Dalam tulis Islam Ku Islam Anda Islam Kita. Nampak jelas sikap Gus Dur atas perdamaian Dunia. Tanpa ragu Gus Dur mengecam invasi AS ke Irak yang kemudian berhasil menumbangkan rezim Saddam Hussein. Gus Dur juga mengkritisi mantan Perdana Menteri Singapura Singapura Lee Kuan Yew yang dinilainya terlalu provokatif dan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Lee juga dikritik oleh Gus Dur karena pandangannya yang steriotipe dan agak misleanding terhadap Islam Sunni di Indonesia.
Gus Dur dalam pembelaan Ahmadiya dan Inul Daratista, bisa penulis pahami bahwa Gus Dur melihat manusia jauh lebih berharga dari segalanya. Gus Dur tidak menginginkan sesama manusia saling membully apalagi membunuh atasnama kebenaran agama.
Agama harus ditempatkan pada kerangka penglihatan yang baru, seperti menyoroti masalah kemiskinan dan ketidakadilan dalam prespektif yang dinamis, sehingga tidak hanya sekedar pasrah kepada nasib. Untuk mengembangkan taraf kehidupan yang layak sebagai manusia, maka dengan jalan menentang dominasi oleh sekelompok manusia, baik suku, bangsa, kawasan atas manusia di lingkungannya masing-masing, Islam memiliki sejumlah ajaran dan nilai-nilai serta pranata yang diperlukan untuk pencapaian dan peningkatan taraf kehidupan sebuah masyarakat. Abdurrahman Wahid (Adnan Mahmud, 2016: 112-113).
Kehadiran Islam merupakan bentuk dari upaya untuk membebaskan umat manusia dari kebodohan, ketimpangan sosial dan konsep perbudakan yang begitu nampak. Dengan demikian, Islam sebagai agama harus mampu memberikan kemudahan bagi semua orang. Islam yang Rahmatan’lilalamin, Islam yang ramah bukan Islam yang pemarah. Seperti yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Prinsipnya, tidak perlu harus ada permusuhan. Apalagi mengatasnamakan Tuhan. Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya. Al-Hujwiri mengatakan: Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “Ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah presepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkan. Disinilah kebenaran Allah tidak sedikit pun dengan adanya keraguan orang (Abdurrahman Wahid, 2012: 67-68).
Gus Dur Pejuang Minoritas
Dikisahkan bahwa kelompok Hindu Indonesia mengalami kesulitan dalam membangun rumah ibadah. Persoalannya ialah, lokasi yang tidak sesuai, izin peruntukan bangunan yang tidak tepat untuk menjadi temapt ibadah dan mengganggu ketertiban umum, entah apa yang mengganggu. Bingung harus berbuat apa dan bagaimana. Akhirnya, usulan dari pendeta yang paling tua bahwa mereka harus bertemu dengan Gus Dur.
Bukan hanya Hindu, tetapi Protestan juga demikian. Mereka datang kepada Gus Dur dan memberikan curahan hatinya bahwa mereka sulit izin membangun gedung, mereka membutuhkan gedung baru. Sebab, dalam satu komplek terdapat lima Gereja. Gus Dur pun memenuhi permintaan dari dua kelompok beda agama tersebut. Sambil berkata kepada ajudannya orang mau sembahyang kok dihalang-halangi. Gus Dur pun berkata mau didirikan sepuluh gereja juga bisa yang penting Anda tidak berantam, keselamatan bangsa harus tetap diutamakan, ungkap Gus Dur.
Dalam kisah yang lain Gus Dur sewaktu bertandang ke Papua (sebelumnya Irian Jaya) dan melakukan dialog dengan pemuka adat. Di atas pesawat Gus Dur melihat pengibaran mendera Bintang Kejora ditengah bergolak Irian, Irian ialah NKRI. Gus Dur mengatakan: “saya senang berdialog dengan Anda asalkan tidak menggunakan kekerasan”. Gus Dur kemudian merayakan tahun baru bersama para tokoh dan masyarakat Papua. Disinilah Gus Dur kemudian memberikan masukan kepada tokoh adat kalau Irian dalam bahasa Arab artinya telanjang. Bagaimana kalau kalian memilih sendiri namanya, melihat ketulusan dari Gus Dur, maka mereka kemudian mengantikan namanya menjadi Papua (Damien Dematra, 2010: 141-155).
Masih dalam Sejuta Doa untuk Gus Dur. Di ceritakan. Bingky Irawan sosok Ketua Majelis Agama Khonghucu Jawa Timur saat itu merasa bingung lantaran dua rekan penganut Konghucu hendak menikah, namun dengan menggunakan keyakinan mereka. Sewaktu mereka ke Kantor Catatan Sipil, mereka ditolak karena tidak ada Konghucu dalam agama di Indonesia (status agama dalam Kartu Tanda Kependudukan/KTP). Walaupun perdebatannya masuk pada posisi Catatan Sipil sebagai Departemen Agama atau apa, sehingga mempersoalkan masalah pernikahan. Singkat cerita dua sejoli hendak menikah ini dalam keadaan pasra, keluarga pun demikian. Sampai pada dimana, ketua majelis ini berupaya berpikir siapa yang bisa membantu. Muncul dibenaknya Gus Dur, Ia pun mengutarakan bahwa yang tersisa ialah seorang Kiai, ya Abdurrahman Wahid, sosok ketua PB Nahdlatul Ulama. Sontak kaget keluarga dua belah pihak, yang tak begitu percaya masa seorang ulama bisa membantu kelompok minoritas.
Nasib Konghucu terkantung-katung di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan akhirnya ke Mahkama Agung (MA). Panjang ceritanya Konghucu memang memperjuangkan kebebasan beribadah dan pengakuan agama resmi tercapai dimasa Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Gus Dur dalam kapasitas sebagai Presiden kemudian, menyuruh kepada Binky kembali ke Mahkama Agung (MA) dan berkata (Bingky): tenang “saya diminta Presiden Aburrahman Wahid menyelesaikan berkas saya” cukup demikian. Akhirnya kemenangan didapatkan oleh dua sejoli berkeyakinan Konghucu. Gus Dur kemudian melakukan kunjungan ke negara China, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 melalui Keputusan Presiden No. 6/2000. Untuk pertama kalinya di sejarah Indonesia, Presiden mengucapkan Kiong Hi Fat Choi di depan umum.
Diakui atau tidak. Indonesia ialah negara yang mengakui kemajemukan dan Indonesia juga belum mampu meletakan kemajemukan itu pada kebebasan yang sebenarnya. Yakni memandang yang berbeda sama dalam beribadah tanpa melarang dan membuat kerusakan rumah ibadah. Mari menebar Cinta untuk “kemanusiaan dan Indonesiaan”…….(*).
















