JAKARTA — Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS, Izzuddin Alqassam Kasuba, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meninggalnya wisatawan asal Brasil, Juliana Marins, dalam insiden tragis saat mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Dalam pernyataannya di Jakarta, Alqassam turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, seraya mendorong pemerintah untuk mengambil langkah evaluatif dan korektif secara cepat dan menyeluruh.
“Kejadian ini bukan sekadar kecelakaan individu, tetapi menjadi cermin rapuhnya sistem keselamatan wisata berbasis alam di Indonesia. Negara memiliki tanggung jawab penuh untuk menjamin keamanan setiap wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” tegas Alqassam.
Menurutnya, pariwisata minat khusus seperti pendakian gunung harus disertai standar keselamatan yang ketat, terukur, dan mengacu pada praktik terbaik internasional. Ia menilai tragedi Rinjani sebagai peringatan serius untuk memperbaiki sistem secara nasional.
“Indonesia adalah megadestinasi dunia. Kita tidak boleh membiarkan insiden tragis seperti ini mencoreng citra pariwisata kita. Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah harus segera melakukan audit menyeluruh terhadap protokol keselamatan di destinasi wisata alam dan petualangan,” ujar legislator asal Dapil Maluku Utara ini.
Alqassam juga mendorong keterlibatan komunitas pendaki, operator wisata, serta masyarakat lokal dalam menyusun Standard Operating Procedure (SOP) keselamatan yang adaptif terhadap tantangan geografis dan kondisi lapangan. Ia menekankan pentingnya penggunaan teknologi pelacak pendaki, penguatan pos pengamanan, dan pelatihan tanggap darurat bagi pemandu wisata.
“Promosi wisata harus berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur keselamatan. Kita tidak bisa hanya menjual keindahan tanpa memastikan perlindungan nyawa para wisatawan,” tegasnya.
Sebagai wakil dari provinsi kepulauan dengan banyak destinasi berbasis alam seperti Maluku Utara, Alqassam menekankan bahwa sinergi antara promosi, pelayanan, dan keselamatan menjadi prasyarat mutlak dalam membangun kepercayaan wisatawan internasional. Ia berharap peristiwa di Rinjani menjadi momentum refleksi dan reformasi menyeluruh dalam manajemen risiko wisata alam di Indonesia.
“Pariwisata adalah sektor vital bagi perekonomian nasional dan daerah. Jangan biarkan satu tragedi menjadi gambaran umum tentang lemahnya keselamatan wisata kita. Tugas kita bersama adalah memastikan tidak ada lagi nyawa yang melayang akibat kelalaian sistem,” pungkas Alqassam. (red)
(alif)
















