HALSEL, MALUKU UTARA – Habib Usia, siswa kelas VIII SMP Negeri 69 Satap Halmahera Selatan (Halsel), hampir kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi keluarga. Kondisi tersebut mendapat perhatian langsung dari Ketua TP-PKK Halsel, Ny. Rifa’at Alsa’adah Bassam, didampingi Ketua Bidang I TP-PKK, Ny. Mardiana Bopeng Helmi, bersama jajaran TP-PKK dan Kepala Dinas Pendidikan Halsel, Siti Khodijah.
Mereka mendatangi langsung kediaman Habib di Desa Sungera, Kecamatan Bacan Timur, Sabtu (22/8/2026), untuk melihat kondisi kehidupan Habib dan keluarganya sekaligus memberikan dukungan.
Kedatangan dua sosok pemimpin perempuan tersebut tidak sekadar menyerahkan bantuan. Mereka ingin memastikan secara langsung kondisi yang dihadapi Habib, terutama persoalan ekonomi yang membuatnya hampir meninggalkan bangku sekolah.
Habib Usia, 12 tahun, merupakan anak pasangan Jaka Usia (51) dan Safa Suleman (38). Sang ayah yang hanya lulusan SD sehari-hari bekerja sebagai tenaga angkutan sampah dengan penghasilan kurang dari Rp1 juta per bulan. Sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap.
Kondisi keluarga Habib semakin berat karena ia tinggal bersama tujuh anggota keluarga lainnya. Mereka menempati sebuah mes yang sudah kumuh milik PT Bela dan tidak memiliki kendaraan.
Keterbatasan ekonomi membuat Habib kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah, mulai dari seragam, sepatu, tas hingga alat tulis. Setelah naik ke kelas VIII pada 2026, Habib bahkan hampir dua bulan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar karena keluarganya tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikannya.
Melihat kondisi tersebut, pihak SMP Negeri 69 Satap tidak tinggal diam. Pada 16 Agustus 2026, guru wali Ida Royani Sabar bersama sejumlah guru mendatangi rumah Habib atas instruksi kepala sekolah untuk melihat langsung kondisi keluarga sekaligus mencari solusi agar Habib tidak benar-benar meninggalkan sekolah.
Kepedulian tersebut kemudian diwujudkan melalui langkah nyata. Salah satu guru, Mirnawati Tidore, bersedia membawa Habib untuk tinggal bersamanya sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pendidikannya hingga menyelesaikan jenjang SMP dan SMA.
Pada 18 Agustus 2026, Habib akhirnya dijemput dan kembali mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Di tengah upaya tersebut, TP-PKK Halsel turut memberikan dukungan kepada Habib dan keluarganya. Bantuan yang disalurkan berupa tas sekolah dan ATK, satu rak telur, biskuit kaleng dan biskuit kemasan, minyak kelapa dua kilogram, teh, gula dua kilogram, beras 30 kilogram serta uang tunai.
Ny. Rifa’at Alsa’adah Bassam berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban keluarga sekaligus memberikan semangat kepada Habib untuk tetap bersekolah dan tidak menyerah pada keadaan.
Di tengah keterbatasan yang dihadapinya, Habib masih menyimpan cita-cita besar untuk melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.
Respons cepat TP-PKK bersama Dinas Pendidikan menjadi gambaran pentingnya kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, khususnya ketika seorang anak menghadapi ancaman putus sekolah akibat persoalan ekonomi.
Pendidikan, sebagaimana terlihat dari kisah Habib, tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sekolah.
Kisah Habib bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang hampir kehilangan kesempatan bersekolah. Ini juga menjadi kisah tentang harapan yang kembali tumbuh ketika kepedulian hadir.
Ketika guru bergerak, pemerintah merespons dan masyarakat ikut peduli, masa depan seorang anak dapat diselamatkan.
Kini Habib kembali bersekolah dengan harapan sederhana: terus belajar, meraih cita-cita, dan suatu hari menjadi seorang sarjana. (Slm)
Editor : Alif
















