HALSEL – Dalam rangka memperingati hari kesaktian pancasila, dinas pendidikan bekerjasama dengan bunda literasi Kabupaten dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) melaksanakan rangkaian acara lomba kreatifitas seni dan festival tunas bahasa ibu (FTBI), dilaksanakan di alun-alun UMKM Milenial, pada Rabu (22/10/2025).
Lomba Festival tunas bahasa Ibu (FTBI), dihadiri oleh anggota DPRD Halmahera Selatan, balai bahasa Provinsi Maluku Utara, pihak kesultanan, tokoh 3 bahasa, kepala-kepala OPD, direktur Bank, DWP, PKK, GOW, dan kepala-kepala sekolah serta peserta lomba.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali potensi peserta didik usia SD hingga SMA dalam rangka penerapan nilai nilai pancasila.
Dalam sambutannya kepala dinas pendidikan Siti Khodijah menyampaikan bahwa di halmahera selatan pada tahun 2025 ini telah merancang 3 bahasa daerah menjadi muatan lokal di sekolah.
3 bahasa tersebut adalah bahasa makian dalam, makian luar dan bacan. Dengan di revitalisasinya 3 bahasa tersebut ke dalam muatan lokal sekolah diharapkan akan menjadi kekayaan budaya tak benda yang tidak punah dari kabupaten halmahera selatan.
Selain itu hasil perlombaan ini akan dikirimkan ke tingkat provinsi untuk mengikuti lomba dan selanjutnya akan dikirimkan ke tingkat nasional jika memang berhasil di tingkat provinsi.
Sebagai bukti komitmen dinas pendidikan, rencana tersebut diikuti dengan penyusunan dokumen kurikulum oleh tim yang terdiri dari Balai penjaminan mutu pendidikan (BPMP) maluku utara, penutur yang sudah dilatih oleh Balai bahasa Maluku utara, Tim ahli bahasa dari masing masing suku bahasa tersebut. Tidak kalah pentingnya dinas pendidikan juga sedang menyiapkan perbup pelaksanaan mulok bahasa daerah.
Dalam sambutannya, bunda literasi Ny. Rifa’at Al Sa’adah Bassam mengapresiasi atas inisiatif dinas pendidikan ini karena sesungguhnya bahasa adalah bagian penting dari sebuah peradaban yang harus dijaga dan dilestarikan.
Beliau berharap dari kegiatan tersebut akan muncul generasi yang menjunjung tinggi nilai nilai budaya di daerah ini.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang kini mulai tergerus oleh arus globalisasi.
“Bahasa daerah adalah identitas dan kebanggaan kita. Kalau tidak dijaga, lama-lama bisa hilang,” ujar Rifa’at dalam sambutannya.
Ia menilai, pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya lewat kegiatan formal, tapi juga perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang publik.
Rifa’at berharap, kehadiran kamus tiga bahasa daerah itu bisa menjadi panduan bagi anak-anak untuk belajar dan mencintai bahasa ibu mereka.
“Kamus ini akan menjadi panduan bagi anak-anak kita untuk belajar dan mencintai bahasa ibu mereka,” pungkasnya.
Antusias masyarakat terlihat dengan banyaknya peserta yang mendaftar sejumlah 121 peserta dengan berbagai macam lomba. (red)
(alif)
















