HALSEL, MALUKU UTARA – Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai melalui Dinas Pariwisata (Dispar) menggelar Gerakan Aksi Sapta Pesona sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan kawasan wisata, Senin hingga Selasa (15–16 Desember 2025).
Aksi bersih pantai ini dilaksanakan selama dua hari di dua lokasi wisata unggulan, yakni Pulau Dodola pada Senin (15/12) dan Pulau Tabailenge pada Selasa (16/12/2025). Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Pariwisata, pihak Kecamatan Morotai Utara, serta warga Desa Bere-Bere.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Pulau Morotai, Muksin Suleman, mengatakan bahwa Aksi Sapta Pesona merupakan kegiatan bersih-bersih sampah di kawasan wisata guna meningkatkan kesadaran masyarakat dan pengunjung. “Jadi ada dua titik kegiatan, kemarin di Pulau Dodola dan hari ini di Pulau Tabailenge. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari,” ujar Muksin.
Ia menambahkan, keterlibatan berbagai pihak, khususnya pemerintah kecamatan dan masyarakat setempat, menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian destinasi wisata. “Yang dilibatkan dalam aksi bersih pantai ini berasal dari pihak Kecamatan Morotai Utara dan sejumlah warga Desa Bere-Bere,” ungkapnya.
Muksin berharap, melalui kegiatan ini masyarakat dan pengunjung semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan wisata. “Mudah-mudahan setelah kegiatan ini, masyarakat dan para pengunjung tidak lagi membuang sampah sembarangan. Sampah yang kami temukan di Pulau Dodola dan Pulau Tabailenge sebagian besar diduga berasal dari pengunjung dan sampah bawaan,” jelasnya.
Ia pun mengajak seluruh pengunjung untuk terus menjaga kebersihan kawasan wisata demi kenyamanan bersama. Sementara itu, salah satu staf Kecamatan Morotai Utara sekaligus perwakilan masyarakat Desa Bere-Bere, Rinto Mandea, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Daerah, khususnya Dinas Pariwisata.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata karena telah melaksanakan aksi bersih-bersih di kawasan wisata. Ini kegiatan yang sangat luar biasa,” tuturnya.
Meski demikian, Rinto berharap Pemerintah Daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi Pulau Tabailenge yang terus mengalami abrasi. “Pulau Tabailenge ini akhir-akhir terus mengalami abrasi. Kami berharap ada perhatian khusus dari Pemerintah Daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengukuran yang dilakukan warga, luas Pulau Tabailenge terus mengalami penyusutan. Pada tahun 2003–2004, panjang pulau mencapai sekitar 2.115 meter. Namun pada tahun 2014 menyusut menjadi 1.150 meter.
“Pengukuran terakhir pada tahun 2022 hingga sekarang menunjukkan panjang Pulau Tabailenge tinggal sekitar 480 meter dengan lebar kurang dari 100 meter. Ini akibat abrasi,” jelas Rinto.
Untuk itu, ia meminta agar Pemerintah Daerah segera mengambil langkah penanganan guna menyelamatkan Pulau Tabailenge sebagai salah satu ikon wisata Morotai.
“Kalau tidak diperhatikan, kami khawatir anak cucu kita tidak lagi bisa menikmati Pulau Tabailenge. Pulau ini adalah aset wisata dan surga kecil di Morotai Utara yang harus dijaga,” pungkasnya. (red/tim)
















