HALTENG, MALUKU UTARA — Senja di Desa Bobane Jaya biasanya berjalan tenang. Aktivitas warga perlahan mereda seiring matahari turun di balik perbukitan. Namun Kamis petang, 2 April 2026, ketenangan itu berubah menjadi kecemasan.
Ali Abas (50), seorang petani yang dikenal sederhana dan disiplin, tak kunjung kembali dari kebunnya.
Bagi keluarga, ini bukan hal biasa. Setiap hari, Ali hampir selalu tiba di rumah sebelum waktu salat ashar. Jarak kebunnya sekitar tiga kilometer dari permukiman, namun rutinitas itu tak pernah berubah. Hingga maghrib menjelang dan ia belum juga pulang, kegelisahan mulai tumbuh.
Tanpa menunggu lama, keluarga bersama warga memutuskan melakukan pencarian. Mereka menyusuri jalan setapak menuju kebun—jalur yang sudah akrab bagi sebagian besar warga. Namun malam itu, jalur tersebut terasa berbeda. Sunyi lebih pekat, langkah terasa lebih berat, dan kekhawatiran menyelimuti setiap orang yang terlibat dalam pencarian.
Di salah satu tanjakan, langkah mereka terhenti. Sebuah benda mencurigakan ditemukan di tengah jalur: rangkaian bambu dan kayu runcing yang disusun menyerupai ranjau tradisional. Warga yang melihatnya langsung tersentak. Perangkap itu bukan sekadar ancaman—melainkan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak wajar terjadi.
Pencarian pun dilanjutkan dengan rasa waswas yang kian dalam.
Tak lama kemudian, Ali Abas ditemukan, Tubuhnya tergeletak di area kebun dalam kondisi tidak bernyawa. Sejumlah warga yang berada di lokasi menyebut terdapat tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, meski hal ini masih menunggu kepastian dari hasil visum resmi.
Suasana berubah mencekam. Tidak ada lagi percakapan panjang, hanya tatapan cemas dan bisik-bisik pelan. Beberapa warga mengaku ketakutan—bukan hanya karena apa yang mereka lihat, tetapi karena kemungkinan bahwa ancaman serupa masih mengintai.
“Takut sekali… kalau pelaku belum tertangkap, siapa berikutnya?” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Jenazah Ali kemudian dievakuasi secara gotong royong oleh warga menuju kampung. Malam itu, duka menyelimuti desa. Sekitar pukul 23.15 WIT, jenazah dibawa ke fasilitas kesehatan untuk menjalani visum et repertum sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Di tengah duka dan ketegangan, muncul pula kekecewaan. Sejumlah warga menyoroti belum terlihatnya kehadiran aparat kepolisian saat proses pencarian awal berlangsung. Mereka mengaku harus bergerak sendiri di tengah situasi yang tidak pasti. Aparat disebut baru tiba setelah jenazah sudah berada di kampung.
Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga rasa tidak aman yang semakin nyata.
Sebagian warga mengaitkan kejadian ini dengan isu Orang Tak Dikenal (OTK) yang sebelumnya disebut-sebut kerap meresahkan wilayah tersebut. Meski demikian, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait motif maupun pelaku.
Secara hukum, kasus ini berpotensi masuk dalam kategori tindak pidana berat, termasuk dugaan pembunuhan, bergantung pada hasil penyelidikan lebih lanjut.
Kini, Desa Bobane Jaya tidak lagi sama. Jalur kebun yang dulu dilalui dengan tenang, kini menyisakan bayang-bayang ketakutan. Warga berharap, aparat penegak hukum dapat segera mengungkap kebenaran di balik peristiwa ini—sebelum teror benar-benar menjadi bagian dari keseharian mereka. (tim)
















