Masjid Asli Peninggalan Nabi Muhammad SAW Dipenuhi Coretan Tangan Orang Indonesia

Rabu, 12 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malut, SibelaNews.id – Kisah Nabi Muhammad SAW dalam memperjuangan Agama Islam selalu menarik dibahas. Salah satunya mengenai masjid asli peninggalan Nabi Muhammad SAW, yakni Masjid Hudaibiyah yang dibangun di lokasi perundingan yang melahirkan Perjanjian Hudaibiyah kala itu.

Masjid Hudaibiyah ini merupakan salah satu tempat miqat yang berada di kawasan Makkah. Lokasi tersebut menjadi tempat favorit bagi jemaah haji atau umrah. Masjid Hudaibiyah ini merupakan masjid yang sangat bersejarah bagi Rasulullah SAW. Lantas seperti apa kondisi masjid tersebut saat ini?

Zaman dahulu, Masjid Hudaibiyah hanya dibangun dengan bebatuan dan tanah liat. Bangunan masjid tersebut juga tanpa atap layaknya masjid zaman sekarang.

Masjid tanpa atap itu kini tersisa puing batu-batuan sisa bangunan. Yang lebih menyedihkan, tembok masjid yang terbuat dari batu itu dipenuhi tulisan-tulisan orang Indonesia yang berziarah ke masjid tersebut. Mereka menuliskan nama-nama mereka dan harapan yang diinginkan.

Selain dari orang Indonesia, juga ada orang Pakistan yang menuliskan di bebatuan menggunakan tulisan Arab Pakistan. Aksi vandalisme ini biasanya dipercaya jemaah agar nama keluarga yang ditulis di batu bisa terpanggil ke Tanah Suci Makkah.

Lantas bagaimana sejarah Masjid Hudaibiyah? Hudaibiyah erat kaitannya dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya saat hendak melakukan ibadah haji dan umrah.

Saat itu Rasulullah membawa 1.000 rombongan dari Madinah ke Makkah. Namun, Rasulullah bersama rombongan justru dicegah oleh orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy malah menganggap Rasulullah bersama rombongan berniat mengajak perang.

Kepada utusan Quraisy, Rasulullah menjelaskan tujuan kedatangannya ke Makkah untuk ibadah haji dan umrah. Bukan untuk berperang. Namun, pihak Quraisy tak sepenuhnya percaya hingga mereka mengatur siasat untuk mengadang kedatangan Rasulullah bersama pengikutnya ke Makkah. Kisah ini pun diabadikan dalam Al-Quran pada QS Al Fath Ayat 24.

Baca Juga :  Wabup Helmi Sampaikan Dua Ranperda di Paripurna, Regulasi Bank dan Pilkades Jadi Fokus
Foto viva

Rasulullah bahkan mengutus Utsman bin ‘Affan untuk melakukan perundingan. Namun kandas. Sampai akhirnya muncul desas-desus bahwa Usman bin ‘Affan telah dibunuh oleh kaum Quraisy secara muslihat.

Rasulullah dan pengikutnya pun merasa gelisah. Untuk menunjukkan rasa solidaritas yang kuat, kaum muslimin saling meletakkan tangannya di atas beberapa pedang yang dibawa untuk keperluan pemotongan binatang kurban. Sumpah setia ini dalam sejarah Islam dikenal dengan “Bai’atur Ridwan.” Bai;atur Ridwan ini rupanya sampai ke telinga pihak Quraisy dan menggetarkan hati mereka.

Kaum Quraisy lantas segera mengadakan sidang darurat untuk mencari cara menghadapi ancaman kaum muslimin. Quraisy sejatinya terjatuh mentalnya lantaran masih trauma dengan kekalahan di Perang Badar. Usman bin ‘Affan pun akhirnya bisa kembali bersama Rasulullah dan rombongan. Sementara pihak Quraisy mengirimkan utusannya untuk melaksanakan perundingan dengan kaum muslimin untuk menghindari kesalahpahaman.

Kala itu pihak Quraisy diwakili Suhail Ibnu Umar dan kaum muslimin diwakili Nabi Muhammad SAW. Dari perundingan itulah, muncul Perjanjian Hudaibiyah. Dinamakan Perjanjian Hudaibiyah karena dilaksanakan di daerah Hudaibiyah, di luar Kota Makkah, pada bulan Dzulqa’dah 6 Hijriah. Di lokasi perjanjian itulah, didirikan Masjid Hudaibiyah yang menjadi saksi sejarah Perjanjian Hudaibiyah.

Seiring berjalannya waktu, dibangunlah Masjid Asy-Syumaisi Hudaibiyah yang letaknya ada di sebelah masjid sejarah Perjanjian Hudaibiyah.
Masjid Asy-Syumaisi Hudaibiyah itu digunakan oleh jamaah haji dan umrah sebagai tempat mengambil miqat. Luasnya tak lebih dari 1.000 meter persegi. (red)
#sumber: mediumjatimtimes.com

Berita Terkait

600 Prajurit Siap Jaga Halsel, Danyonif TP 867: Kami Beri Kepastian Keamanan
HUT ke-81 TNI di Halsel, Bupati Bassam dan Wabup Helmi Tekankan Sinergi Bersama Rakyat
Bupati Bassam Kasuba Buka FGD RDTR dan KLHS, Dorong Tata Ruang Halsel Lebih Terarah
Widi Punya Pesona Kelas Dunia, Ahmad Ukin Dorong Jadi Destinasi Ekowisata Halsel
Kuasa Hukum Ahli Waris Hentikan Aktivitas PT IWIP, Desak Hak Lahan 7 Hektare Diselesaikan
Hormati Sejarah Kesultanan Bacan, Nama Bandara Labuha Diusul Jadi Sultan Oesman Shadiq
Bapenda Halsel Perkuat Pendataan Pajak, Sarjan Jafar Serahkan SPPT PBB-P2 2026
Wabup Helmi Sampaikan Dua Ranperda di Paripurna, Regulasi Bank dan Pilkades Jadi Fokus

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:26 WITA

600 Prajurit Siap Jaga Halsel, Danyonif TP 867: Kami Beri Kepastian Keamanan

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:10 WITA

HUT ke-81 TNI di Halsel, Bupati Bassam dan Wabup Helmi Tekankan Sinergi Bersama Rakyat

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:29 WITA

Bupati Bassam Kasuba Buka FGD RDTR dan KLHS, Dorong Tata Ruang Halsel Lebih Terarah

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:53 WITA

Widi Punya Pesona Kelas Dunia, Ahmad Ukin Dorong Jadi Destinasi Ekowisata Halsel

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:22 WITA

Kuasa Hukum Ahli Waris Hentikan Aktivitas PT IWIP, Desak Hak Lahan 7 Hektare Diselesaikan

Berita Terbaru