HALSEL, MALUKU UTARA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda lima desa di Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), yakni Desa Baru, Akegula, Buton, Laiwui, dan Jikotamo. Kebakaran juga terjadi di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, pada 17 Oktober 2026.
Penanganan karhutla melibatkan pemerintah kecamatan dan desa, masyarakat, aparat keamanan, serta dukungan operasional Harita Nickel. Namun, keterbatasan air dan medan hutan yang terjal menjadi kendala dalam upaya pemadaman.
Camat Obi, Ali Lajarahia, mengatakan penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas sektor bersama perusahaan dan berbagai unsur terkait.
“Setelah dilakukan rapat koordinasi lintas sektor dan perusahaan, proses penanganan langsung dilakukan. Memang ada beberapa kendala dalam proses penanganan, yakni ketersediaan air untuk pemadaman dan lokasi kebakaran yang berada di kawasan hutan dengan medan terjal sehingga petugas mengalami kesulitan,” kata Ali.
Menurutnya, penanganan karhutla telah berlangsung sekitar tujuh hari. Selain menghadapi kendala teknis, kebakaran juga berdampak pada lingkungan permukiman karena kabut asap menyelimuti sejumlah desa di Kecamatan Obi.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Ali menyebut penanganan karhutla secara bersama-sama telah berlangsung sekitar tujuh hari. Dalam upaya tersebut, Harita Nickel memberikan dukungan operasional berupa dua drum bahan bakar minyak (BBM) untuk alat berat yang berfungsi memutus meluasnya kobaran api.
Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) Karhutla Kecamatan Obi, Kapten Inf. Amin Tomia, mengungkapkan tiga titik awal api telah diidentifikasi, masing-masing satu titik di wilayah Desa Baru dan dua titik di Desa Buton.
Hingga kini, penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti karena titik-titik awal api berada di kawasan hutan.
Amin mengatakan koordinasi antarunsur terus dilakukan untuk mendukung proses penanganan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan saat beraktivitas di sekitar rumah maupun kebun.
Selain di Kecamatan Obi, kebakaran juga terjadi di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan, pada 17 Oktober 2026. Penanganan di lokasi ini melibatkan Pemerintah Desa Soligi, masyarakat, dan Harita Nickel.
Sebelumnya, kebakaran turut terjadi di Desa Kawasi, Kecamatan Obi. Menanggapi kejadian tersebut, Harita Nickel mengerahkan Crisis Management Team (CMT) untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat dalam menangani kebakaran yang kembali muncul di sekitar tempat pembuangan sampah.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi antara pemerintah, masyarakat, aparat keamanan, dan pihak perusahaan dalam menangani karhutla di wilayah Obi dan sekitarnya.
Di tengah keterbatasan air dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, dukungan operasional serta kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya penanganan dan pencegahan kebakaran agar tidak meluas. (**)
















