Dorong Morotai Sebagai Kota Sejarah, Mukhlis Eso dan Fadli Alting Terus Kembangkan Peninggalan PD II

Kamis, 4 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar : Istimewah

Gambar : Istimewah

HALSEL — Upaya menjadikan Pulau Morotai sebagai kota sejarah terus dilakukan oleh dua warga setempat, Mukhlis Eso dan Fadli Alting, melalui museum swadaya yang mereka bangun secara mandiri. Langkah keduanya menjadi bukti komitmen untuk melestarikan ribuan peninggalan Perang Dunia II (PD II) yang tersebar di pelosok Morotai.

Selama bertahun-tahun, Mukhlis dan Fadli mengumpulkan berbagai artefak PD II—mulai dari perlengkapan militer, senjata, selongsong peluru, hingga peralatan kebutuhan sehari-hari tentara Sekutu dan Jepang—untuk dijadikan sarana edukasi bagi generasi muda.

Meski keduanya memiliki hobi serupa, nama Mukhlis Eso lebih dikenal karena museum swadaya yang ia kelola telah banyak dikunjungi masyarakat, pemerintah, wisatawan lokal hingga mancanegara. Namun demikian, Fadli Alting tak kalah bersemangat. Ia memiliki impian besar untuk mengembangkan museum kecilnya agar Morotai benar-benar diakui sebagai kota sejarah dunia.

“Memang impian besar bukanlah hal mudah, tapi tidak mustahil jika diperjuangkan. Barang-barang peninggalan Sekutu dan Jepang yang saya kumpulkan sejak 2010 ini bertujuan agar generasi muda Morotai mengenal sejarah PD II di sini,” ujar Fadli kepada wartawan, Minggu (30/11/2025).

Fadli menjelaskan, Morotai memiliki nilai historis mendalam karena pernah menjadi basis pertahanan besar pasukan Sekutu saat PD II berlangsung di kawasan Pasifik. Bagi dirinya, bukti-bukti sejarah tersebut tidak boleh hilang atau dibiarkan rusak dimakan waktu.

“Di 2010 pernah saya tulis, kalau Jakarta itu kota metropolitan, Jogja kota pendidikan, maka target saya Morotai menjadi kota sejarah,” tegasnya.

Sebagai ASN di lingkup Pemkab Morotai, Fadli juga sering mengingatkan warga untuk menjaga warisan sejarah, meskipun yang ditemukan hanya berupa sepotong besi berkarat.

“Sekarang mencari barang-barang itu sudah sulit. Misalnya di area Gotalamo dulu banyak, tapi kini sudah banyak rumah berdiri sehingga lokasi pencarian semakin terbatas,” jelasnya.

Baca Juga :  Bolos dan Malas Masuk Kantor, Belasan ASN Halsel Diseret ke Meja Sidang Kode Etik

Meski memiliki potensi besar, Fadli mengaku hingga kini museum swadaya miliknya belum menerima dukungan berarti dari pemerintah daerah. Ia berharap tempat sederhana yang ia bangun dapat memperoleh legalitas resmi sebagai museum swadaya.

“Saya berharap Dinas Pendidikan bisa pasang papan nama agar orang tahu ini museum. Banyak barang yang belum saya bawa karena khawatir dianggap ilegal dan disita. Dengan adanya pengakuan resmi, kami bisa lebih leluasa merawat peninggalan sejarah ini,” harapnya.

Museum swadaya milik Fadli berlokasi di Dusun Muhajirin Baru, Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan. Kondisi tempat penyimpanan artefak itu tampak memprihatinkan—benda-benda peninggalan perang berserakan karena keterbatasan fasilitas.

Pulau Morotai sendiri menjadi saksi bisu pertempuran besar antara Sekutu—khususnya Amerika Serikat—dan Jepang. Di museum swadaya Mukhlis maupun Fadli, artefak seperti helm, botol, alat medis, amunisi, hingga bom masih tersimpan, menjadi bukti nyata sejarah yang pernah berlangsung di tanah Bumi Moro.

Kondisi ini berbeda dengan Museum Trikora dan Perang Dunia II di Desa Wawama, yang telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012.

Baik Mukhlis maupun Fadli berharap pemerintah setempat memberi perhatian lebih terhadap upaya pelestarian sejarah PD II di Morotai. Selain untuk edukasi, museum swadaya yang mereka bangun juga diharapkan menjadi daya tarik wisata bagi turis domestik maupun mancanegara.

“Tujuannya agar museum ini menjadi daya tarik wisata, supaya perputaran ekonomi di Morotai bisa membaik,” kata Mukhlis mengakhiri.(red)

(Tim)

Berita Terkait

Bolos dan Malas Masuk Kantor, Belasan ASN Halsel Diseret ke Meja Sidang Kode Etik
Bupati Bassam Terima Penghargaan Bergengsi UGM, Halsel Diakui Unggul dalam Transformasi Digital
Bupati Bassam Beri Uang Saku Pribadi ke Jemaah Umrah Halsel, Titipkan Doa untuk Daerah
Di Balik Potensi UMKM, Pantai Tembal Justru Dipenuhi Sampah Plastik
Said Alkatiri Sorot Keterlambatan Pembukaan Bupati Cup, Bassam Kasuba Diminta Evaluasi Kinerja Kadispora
20 Warga Halsel Berangkat Umrah Gratis, Abdillah Titip Pesan Khusus Bupati dan Wabup
Ketua Kwarcab Kak Rifa’at: Kebaikan Pramuka Hari Ini Adalah Bekal Berharga bagi Generasi Masa Depan
Halsel Raih GM-DTGI Award 2026, Bupati Bassam Kasuba Bakal Terima Penghargaan di Jogja

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 14:25 WITA

Bolos dan Malas Masuk Kantor, Belasan ASN Halsel Diseret ke Meja Sidang Kode Etik

Kamis, 5 November 2026 - 20:11 WITA

Bupati Bassam Terima Penghargaan Bergengsi UGM, Halsel Diakui Unggul dalam Transformasi Digital

Kamis, 5 November 2026 - 12:55 WITA

Bupati Bassam Beri Uang Saku Pribadi ke Jemaah Umrah Halsel, Titipkan Doa untuk Daerah

Rabu, 4 November 2026 - 10:14 WITA

Di Balik Potensi UMKM, Pantai Tembal Justru Dipenuhi Sampah Plastik

Selasa, 3 November 2026 - 21:07 WITA

Said Alkatiri Sorot Keterlambatan Pembukaan Bupati Cup, Bassam Kasuba Diminta Evaluasi Kinerja Kadispora

Berita Terbaru

Gambar : Pantai UMKM Melenial.

Berita Terkini

Di Balik Potensi UMKM, Pantai Tembal Justru Dipenuhi Sampah Plastik

Rabu, 4 Nov 2026 - 10:14 WITA