Aroma Bacan dari Sebuah Cangkir: Kopi Liberika Kembali Jadi Idola di AOE 2026

Sabtu, 29 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar : Istimewa

Gambar : Istimewa

JAKARTA — Pagi baru saja beranjak. Aktivitas di arena APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026 belum sepenuhnya ramai ketika aroma kopi mulai menyebar dari salah satu sudut Hall 3 dan 3A ICE BSD, Kabupaten Tangerang.

Aroma itu datang dari stand Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di atas meja, biji-biji Kopi Liberika Bacan disiapkan. Tak jauh dari sana, tangan seorang barista muda bergerak lincah menakar kopi, menuangkan air panas, lalu menyajikannya dalam secangkir kecil kepada pengunjung.

Namanya Rama Mandala. Ia datang dari Bacan, membawa bukan hanya biji kopi, tetapi juga cerita panjang tentang salah satu komoditas khas Pulau Bacan.

Belum lama stand dibuka, pengunjung mulai berdatangan. Ada yang awalnya hanya melintas. Ada pula yang sengaja berhenti karena mencium aroma kopi. Sebagian lainnya seperti sudah mengetahui apa yang sedang disajikan. “Kopi Liberikanya ada di bawah, enggak ya, seperti di AOE 2025 kemarin?”

Pertanyaan itu terdengar dari salah seorang pengunjung. Seolah menjadi penanda bahwa Kopi Liberika Bacan bukan wajah baru di ajang tersebut. Tahun sebelumnya, kopi yang sama juga menjadi salah satu daya tarik stand Halsel. Kini, aroma dan cita rasa Liberika Bacan kembali hadir di AOE 2026.

Bedanya, kali ini Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan tidak hanya membawa kopi dalam bentuk kemasan. Pengunjung diajak mengalami langsung proses penyajiannya. Dari biji kopi menjadi secangkir minuman. Dari produk menjadi pengalaman.  Dan dari pengalaman itu, percakapan tentang Bacan pun dimulai.

Hari Sabtu 29 Agustus, sekitar pukul 07.00 WIB, ketika sebagian pengunjung baru mulai memasuki area pameran, meja penyajian Kopi Liberika Bacan sudah menjadi salah satu titik yang menarik perhatian. Rama melayani pengunjung satu per satu. Ada yang datang karena penasaran. Ada yang bertanya mengenai jenis kopi. Ada pula yang ingin mengetahui dari mana kopi tersebut berasal.

Kopi diberikan secara cuma-cuma untuk dicicipi. Namun, secangkir gratis ternyata mampu membuka percakapan yang jauh lebih panjang. “Ini kopi dari mana?”.” Liberika dari Bacan,” jawab Rama.

Pertanyaan berikutnya biasanya berlanjut. Bagaimana rasanya? Dari mana bijinya? Apakah bisa dibeli? Mengapa disebut Liberika? Apa bedanya dengan kopi lainnya? Di situlah strategi promosi produk lokal bekerja. Pengunjung tidak lagi hanya melihat kemasan yang terpajang di atas meja. Mereka mencium aromanya, merasakan rasanya, lalu mengenal cerita di balik produk tersebut.

Baca Juga :  Widi Punya Pesona Kelas Dunia, Ahmad Ukin Dorong Jadi Destinasi Ekowisata Halsel

Antusiasme itu bahkan membuat sekitar 5 kilogram biji Kopi Liberika Bacan yang dibawa untuk kegiatan expo habis dalam waktu singkat.

Angka tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan besarnya transaksi dalam sebuah pameran. Tetapi bagi sebuah produk lokal yang sedang diperkenalkan, habisnya stok kopi pada hari pertama memberikan pesan yang cukup jelas: rasa penasaran publik terhadap Liberika Bacan masih tinggi.

Kepala Bidang UMKM Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Halsel, Nasriaty Aba’e, mengatakan Kopi Liberika bukanlah produk baru yang dibawa Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dalam berbagai pameran. Namun, cara memperkenalkannya terus dikembangkan. Pada AOE 2026, pengunjung tidak hanya disuguhi kemasan dan biji kopi. Mereka diajak mencicipi langsung.

“Biasanya kita membawa biji kopi untuk dipamerkan. Kali ini kita ingin pengunjung tidak hanya melihat produknya, tetapi juga langsung merasakan bagaimana kopi Liberika Bacan diracik dan disajikan,” ujarnya.

Pendekatan itu membuat kopi menjadi lebih dari sekadar komoditas yang dipajang. Ada interaksi. Ada pengalaman. Dan ada cerita yang berpindah dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya. Rama menjadi penghubungnya. Dengan peralatan seduh di hadapannya, ia memperlihatkan bahwa produk yang berasal dari sebuah pulau di Maluku Utara dapat hadir di ruang pameran nasional dengan wajah yang berbeda. Tidak harus selalu tampil sebagai produk tradisional. Produk lokal juga dapat dikemas secara modern.

Di balik secangkir Liberika yang disajikan Rama, tersimpan sejarah panjang. Kopi telah dikenal di Pulau Bacan sejak masa kolonial Belanda. Komoditas tersebut menjadi bagian dari perjalanan perkebunan di wilayah Kesultanan Bacan.

Gambar : Istimewa

Catatan mengenai sumber daya genetik perkebunan Maluku Utara menyebutkan perkembangan kopi di Pulau Bacan berkaitan dengan kerja sama selama 75 tahun antara Belanda dan Sultan Bacan ke-17, Sultan Sadek, yang dimulai pada 1 Juli 1881.

Melalui perusahaan PT Batjan Algemene Maastchappij (BAM), perkebunan di Bacan mengembangkan beberapa jenis kopi, termasuk Robusta, Liberika dan Excelsa. Artinya, keberadaan kopi di Bacan bukan cerita yang baru muncul ketika produk tersebut mulai dipromosikan dalam pameran. Ia memiliki akar sejarah yang panjang. Generasi berganti. Zaman berubah. Tetapi tanaman kopi tetap menjadi bagian dari lanskap perkebunan Bacan.

Baca Juga :  Bapenda Halsel Perkuat Pendataan Pajak, Sarjan Jafar Serahkan SPPT PBB-P2 2026

Kini, sejarah tersebut mendapatkan ruang baru. Bukan lagi hanya dibicarakan dalam catatan sejarah perkebunan, tetapi diperkenalkan kembali kepada masyarakat melalui sebuah produk yang bisa langsung dicicipi.

Kopi Liberika memiliki karakter yang membuatnya menarik untuk dikembangkan di Halmahera Selatan. Sejumlah penelitian mengenai Kopi Liberika Bacan menunjukkan bahwa jenis kopi tersebut memiliki karakter yang sesuai dengan kondisi dataran rendah Halsel. Hal ini menjadi penting. Sebab, pengembangan komoditas perkebunan tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga kesesuaian tanaman dengan lingkungan tempat ia tumbuh.

Dalam konteks itulah Liberika Bacan memiliki peluang. Ia tumbuh dari tanah sendiri. Memiliki sejarah sendiri. Dan memiliki identitas yang melekat dengan Pulau Bacan. Potensi tersebut kemudian diperkuat dengan pencatatan Liberika Bacan sebagai varietas lokal unggul khas Pulau Bacan dengan nama “Libery US”.

Varietas tersebut terdaftar pada Kementerian Pertanian dengan nomor 1822/PVL/2021. Bagi sebuah komoditas lokal, pencatatan varietas bukan sekadar urusan administrasi. Di dalamnya terdapat pengakuan terhadap kekhasan sumber daya genetik yang dimiliki daerah. Dan dari sana, peluang pengembangannya menjadi semakin terbuka.

Di sebuah pameran seperti AOE, produk daerah berhadapan dengan banyak produk lain dari seluruh Indonesia. Ada makanan. Ada kerajinan. Ada hasil pertanian. Ada produk perkebunan. Ada berbagai inovasi UMKM. Dalam situasi seperti itu, sebuah produk membutuhkan lebih dari sekadar kemasan yang menarik. Ia membutuhkan cerita. Liberika Bacan memiliki cerita tersebut.

Ketika seorang pengunjung memegang cangkir kopi di stand Halsel, yang sebenarnya sedang diperkenalkan bukan hanya minuman. Ada Pulau Bacan di dalamnya. Ada sejarah perkebunan. Ada petani. Ada tanah dan iklim Halmahera Selatan. Ada proses pengolahan. Ada barista muda yang datang dari Bacan. Dan ada harapan agar produk lokal tersebut dapat dikenal lebih luas. Itulah yang dilakukan Rama melalui secangkir demi secangkir kopi.

Baca Juga :  Wabup Helmi Sampaikan Dua Ranperda di Paripurna, Regulasi Bank dan Pilkades Jadi Fokus

Ia menyeduh. Pengunjung mencicipi. Percakapan pun berlangsung. Promosi tidak lagi terasa seperti promosi. Ia berubah menjadi pengalaman.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan melihat expo sebagai salah satu ruang untuk membuka pintu pasar bagi produk-produk daerah. Pameran tidak berhenti pada kegiatan memajang produk. Ada harapan agar pengunjung yang datang hari ini dapat menjadi konsumen pada hari berikutnya.

Lebih jauh lagi, produk yang diperkenalkan diharapkan mampu menemukan mitra, distributor, pelaku usaha, maupun pasar baru. Kopi Liberika Bacan memiliki peluang menuju ke sana. Namun, tantangannya juga tidak kecil. Produksi harus terjaga. Kualitas harus konsisten. Kemasan perlu diperkuat.

Promosi harus berkelanjutan. Dan yang tidak kalah penting, petani serta pelaku UMKM di daerah harus mendapatkan manfaat dari berkembangnya komoditas tersebut. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah produk lokal tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang yang mencicipinya di sebuah expo. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah pameran selesai, permintaan terhadap produk meningkat, pasar semakin terbuka, dan pendapatan masyarakat ikut tumbuh.

AOE 2026 akhirnya bukan hanya tentang sebuah stand yang dipenuhi produk unggulan. Di salah satu sudutnya, aroma Kopi Liberika Bacan menjadi semacam penanda. Bahwa dari pulau kecil di kawasan Maluku Utara, ada produk yang memiliki cerita panjang dan masih memiliki masa depan. Sekitar lima kilogram biji kopi yang dibawa pada hari pertama telah habis. Cangkir-cangkir yang sebelumnya kosong telah berganti aroma kopi.

Pengunjung yang semula hanya lewat, memilih berhenti. Sebagian pulang membawa rasa penasaran. Sebagian mungkin membawa cerita baru tentang Bacan. Dan mungkin, di situlah nilai terbesar sebuah pameran. Bukan sekadar membuat orang melihat sebuah produk. Tetapi membuat mereka mengingatnya. Kopi Liberika Bacan pun kembali melakukan perjalanan yang sama. Dari kebun-kebun di Pulau Bacan, dibawa ke Jakarta, diseduh di tengah keramaian expo, lalu masuk ke ingatan orang-orang melalui aroma dan rasa.

Sebuah perjalanan sederhana. Dari biji. Menjadi secangkir kopi. Lalu berubah menjadi cerita tentang sebuah daerah. (**)

Editor : Alif

Berita Terkait

600 Prajurit Siap Jaga Halsel, Danyonif TP 867: Kami Beri Kepastian Keamanan
HUT ke-81 TNI di Halsel, Bupati Bassam dan Wabup Helmi Tekankan Sinergi Bersama Rakyat
Bupati Bassam Kasuba Buka FGD RDTR dan KLHS, Dorong Tata Ruang Halsel Lebih Terarah
Widi Punya Pesona Kelas Dunia, Ahmad Ukin Dorong Jadi Destinasi Ekowisata Halsel
Kuasa Hukum Ahli Waris Hentikan Aktivitas PT IWIP, Desak Hak Lahan 7 Hektare Diselesaikan
Hormati Sejarah Kesultanan Bacan, Nama Bandara Labuha Diusul Jadi Sultan Oesman Shadiq
Bapenda Halsel Perkuat Pendataan Pajak, Sarjan Jafar Serahkan SPPT PBB-P2 2026
Wabup Helmi Sampaikan Dua Ranperda di Paripurna, Regulasi Bank dan Pilkades Jadi Fokus

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:26 WITA

600 Prajurit Siap Jaga Halsel, Danyonif TP 867: Kami Beri Kepastian Keamanan

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:10 WITA

HUT ke-81 TNI di Halsel, Bupati Bassam dan Wabup Helmi Tekankan Sinergi Bersama Rakyat

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:29 WITA

Bupati Bassam Kasuba Buka FGD RDTR dan KLHS, Dorong Tata Ruang Halsel Lebih Terarah

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:53 WITA

Widi Punya Pesona Kelas Dunia, Ahmad Ukin Dorong Jadi Destinasi Ekowisata Halsel

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:22 WITA

Kuasa Hukum Ahli Waris Hentikan Aktivitas PT IWIP, Desak Hak Lahan 7 Hektare Diselesaikan

Berita Terbaru