JAKARTA — Laut tidak pernah benar-benar diam. Di permukaannya ada gelombang, di bawahnya tersimpan kehidupan, dan di sepanjang garis pantainya bersemayam cerita manusia.
Bagi Halmahera Selatan, laut bahkan menjadi bagian dari identitas. Kabupaten di Maluku Utara itu hidup sebagai daerah kepulauan, dengan masyarakat yang sejak lama menggantungkan kehidupan pada ruang laut dan sumber daya yang dikandungnya.
Gambaran tentang laut dan cerita manusia itu terasa menemukan ruangnya ketika Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, menghadiri pertemuan terbatas Sahabat Tempo di Plataran Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026) malam.
Bassam Kasub hadir didampingi istrinya, Ny. Rifa’at Al Sa’adah, yang juga Ketua TP-PKK Kabupaten Halmahera Selatan. Pertemuan tersebut mengangkat tema “Jalan Jurnalisme Tempo: Dari ‘Kraak’ Minarni hingga Laut Bercerita.”Bukan sekadar pertemuan, kegiatan itu menjadi ruang untuk menelusuri perjalanan panjang Tempo Media Group sejak berdiri pada 1971 hingga kiprahnya hari ini.
Dalam suasana yang berlangsung hangat dan terbatas, Tempo Media Group membagikan cerita mengenai perjalanan jurnalismenya, termasuk komitmen terhadap prinsip imparsialitas. Pada kesempatan yang sama, Tempo memperkenalkan karya film perdananya, “Laut Bercerita.”
“Malam ini, saya berada di Jakarta, memenuhi undangan istimewa dari sahabat-sahabat Tempo. Sebuah pertemuan terbatas, dalam suasana yang hangat,” ujar Bassam.
Ia melihat perjalanan Tempo selama lebih dari lima dekade sebagai perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Namun, ada komitmen yang terus dibawa dalam kerja jurnalistik: keberanian untuk menyampaikan cerita secara jujur dan menjaga imparsialitas.
“Sejak 1971, Tempo telah menempuh jalan panjang. Jalan yang tidak selalu mudah. Jalan yang menjaga satu komitmen, imparsialitas dan keberanian untuk bercerita jujur,” katanya.
Dari Jakarta, pembicaraan kemudian bertemu dengan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Halmahera Selatan: laut.
Bassam Kasuba menilai pesan yang dibawa “Laut Bercerita” memiliki kedekatan dengan masyarakat di wilayah kepulauan. Laut, menurutnya, tidak hanya berbicara tentang bentang geografis, tetapi juga tentang manusia, keadilan, kemanusiaan, dan harapan.
“Laut yang menyimpan cerita, tentang keadilan, tentang kemanusiaan, tentang harapan. Cerita yang dekat dengan kita, masyarakat kepulauan,” ucapnya.
Pernyataan itu menjadi semacam jembatan antara Jakarta dan Halmahera Selatan. Di satu sisi, Tempo berbicara melalui karya jurnalistik dan film. Di sisi lain, Bassam membawa perspektif daerah kepulauan yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dilepaskan dari laut.
Bagi daerah seperti Halmahera Selatan, laut bukan hanya latar belakang kehidupan. Laut adalah ruang tempat masyarakat mencari penghidupan, menghubungkan antarpulau, sekaligus menyimpan sejarah dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, bagi Bassam, setiap cerita yang lahir dari laut memiliki nilai untuk disampaikan. Ia pun menyampaikan apresiasi atas kesempatan bersilaturahmi dengan keluarga besar Tempo. “Terima kasih, Tempo Media Group. Sebuah kehormatan bisa bersilaturahim di sini,” ujarnya.

Kesan serupa disampaikan Ny. Rifa’at Al Sa’adah, pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana santai. Namun, di balik suasana makan malam dan perbincangan ringan, terselip perjalanan panjang tentang dunia jurnalistik dan sejarah Tempo.
“Jalan Jurnalisme Tempo. Ngobrol santai sambil makan malam, cerita tentang sejarah Tempo dari dulu sampai sekarang,” kata Rifa’at.
Menurutnya, salah satu bagian yang paling menarik adalah diperkenalkannya film perdana Tempo Media Group, “Laut Bercerita.”
Tema tersebut kemudian mengingatkannya pada Halmahera Selatan yang memiliki wilayah laut luas dan kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan laut. “Seperti Halmahera Selatan yang memiliki banyak wilayah laut. Laut punya banyak cerita,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan pesan yang luas. Sebab, setiap pulau, pesisir, nelayan, pelaut, hingga masyarakat yang hidup di tepian laut memiliki cerita masing-masing.
Cerita tentang kehidupan, perjuangan, tradisi, potensi, hingga harapan terhadap masa depan. Dan cerita-cerita itulah yang menurut Rifa’at perlu terus dikisahkan, bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi bagian dari pembangunan daerah. “Mari kita kisahkan semua cerita yang ada untuk membangun Bumi Saruma,” pungkasnya.
Dari sebuah pertemuan di Jakarta, laut kembali menemukan cara untuk bercerita. Kali ini, ceritanya bersambung hingga ke kepulauan Halmahera Selatan—tentang manusia, ruang hidup, dan harapan membangun Bumi Saruma. (**)
Editor : Alif

















