TIDORE, SibelaNews.id – Keberadaan guru ngaji menjadi sangat penting bagi unjuk tombak pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Namun, minim dari perhatian Pemerintah Kota Tidore Kepulauan.
Haryati Abd. Gani, salah satu Penyuluh Agama Islam Non PNS Kota Tidore Kepulauan, melalui rilisnya yang diterima media SibelaNews.id, Jum’at, (10/12/2021), menuturkan bahwa hingga saat ini guru ngaji belum mendapat perhatian Pemerintah Kota Tidore Kepulauan.
“Guru ngaji itu garda terdepan dalam pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Mereka harusnya mendapat perhatian pemerintah. Badan syara masjid saja diperhatikan melalui insentif kesejahteraan, guru ngaji sebaiknya juga ikut diperhatikan,” ungkap perempuan yang biasa disapa Ate ini.
Menurut Ate, beberapa guru ngaji yang dijumpainya, sering tidak maksimal dalam proses kegiatan belajar mengajar, hal ini karena mereka harus membagi waktu kesibukan lainnya.
“Ada beberapa dari mereka bekerja jadi pengajar di TPQ seadanya. Proses belajar mengajar juga sering tidak maksimal. Jika sudah kelelahan seharian aktivitas, sering kegiatan belajar mengajar ini diliburkan. Jika kesejahteraan mereka diperhatikan pemerintah, waktu untuk mengurusi anak-anak akan lebih banyak,” ungkap Ate.
Di Tidore sendiri ada ratusan TPQ serta kelompok-kelompok pengajian yang tersebar diberbagai titik, ada yang sudah terdaftar resmi ke instansi terkait, ada pula berjalan tapi belum terdaftar ke instansi terkait.
Banyaknya TPQ serta kelompok-kelompok pengajian ini, tentu menjadi hal yang baik untuk terwujudnya program pemerintah dibidang keagamaan.
Masih menurut Ate, buta aksara Al-Qur’an di Kota Tidore Kepulauan masih sangat memprihatin, jika tidak intens ditangani, banyak anak-anak yang tidak dapat membaca Al-Qur’an. Guru ngaji merupakan garda terdepan di kampung-kampung serta sudut pelosok daerah, mereka bekerja dengan luar biasa.
“Guru ngaji itu orang yang sangat luar biasa, meskipun jasa mereka dilupakan tetapi mereka tetap hidup dengan semangat mencari ridha Allah SWT, ” tambah Ate.
Menurut Ate, banyak sekali kegiatan kegiatan literasi dengan berbagai kemasan dilakukan belakangan, namun sangat jarang dijumpai kegiatan literasi berfokus pada pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, ini menunjukan tingkatan pencapaian pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.
“Banyak itu juga kegiatan-kegiatan literasi diramai diruang publik seperti diruang terbuka hijau, tapi jarang kita literasi yang fokusnya ke pemberantasan buta aksara Al-Qur’an. Jika kegiatan literasi juga ramai, tentu sangat baik bagi pemberantasan buta aksara Al-Qur’an”, tutupnya. (Ir/red)

















